Nominal Jangan Jadi Patokan untuk Membuat Situs Judi Slot

Nominal Jangan Jadi Patokan untuk Membuat Situs Judi Slot – Punya rumah cantik rancangan arsitek, siapa yang tak mau? Tentunya ada kebanggaan tersendiri jika rumah kita adalah hasil buah karya arsitek. Belum lagi, ada berbagai keuntungan yang bisa kita dapatkan. Selain merancang desain rumah yang ideal dan sesuai kebutuhan, arsitek juga menjadi “tangan kanan” yang akan membantu kita mengawasi lapangan saat pembangunan berlangsung. Namun saat hendak menggunakan jasa arsitek, tak jarang kita dihadapkan dengan nominal yang kadang melebihi anggaran. Banyak orang yang lantas mundur saat mengetahui mahalnya biaya jasa arsitek. Padahal, benarkah semahal itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal berikut yang harus dicermati.

Nominal Jangan Jadi Patokan untuk Membuat Situs Judi Slot

Jangan Lihat Nominal Saja

Menurut Steve J. Manahampi, Ketua IAI Jakarta, ada kesalahan yang sering dilakukan pengguna jasa dalam menilai biaya jasa arsitek. Masyarakat seringkali terpatok pada nominal, tanpa melihat besarnya ruang lingkup pekerjaan yang dilakukan sang arsitek. “Banyak yang berasumsi semua pelayanan arsitek sama saja, hanya berbeda harga, sehingga masih banyak yang berhenti hingga biaya jasa saja. Padahal, ruang lingkup pelayanan juga penting untuk ditanyakan. Ruang lingkup inilah yang bisa menjadi acuan murah atau mahalnya biaya jasa arsitek,” Steve menjelaskan. Ia memberi contoh, misalnya arsitek A memberikan harga Rp5 juta untuk satu set gambar skematik (konsep) saja, sedangkan arsitek B memberikan harga Rp20 juta untuk jasa gambar skematik, gambar kerja, hingga pengawasan berkala.

Dalam hal ini, tentu arsitek B memberikan harga jasa lebih murah karena pengguna jasa mendapatkan pelayanan penuh. Sementara dengan harga Rp5 juta, pengguna jasa masih harus turun tangan dalam menghadapi perubahan di lapangan atau direpotkan dengan gambar kerja yang kurang lengkap. Umumnya, arsitek mengemban tugas-tugas seperti membuat konsep desain, membuat gambar kerja lengkap, mengontrol kerja lapangan, hingga membuat keputusan atas perubahan desain di lapangan. Untuk sejumlah nilai yang ditawarkan, apakah berhenti pada gambar kerja saja, ataukah sampai tahap pembangunan? Hal inilah yang harus Anda cermati saat membicarakan biaya jasa arsitek secara menyeluruh. “Disarankan, semua tahapan melibatkan arsitek yang sama. Namun, ini menjadi pilihan masing-masing klien,” ujar Steve menambahkan.

Menerjemahkan Mimpi

Arsitek yang baik akan mengikuti anggaran Anda sebagai pengguna jasa, bukan sebaliknya. Sebagai problem solver, arsitek bertugas menjawab tantangan masalah seperti anggaran terbatas, rumah sempit, keadaan lahan, dan sebagainya. Inilah salah satu nilai yang harus menjadi pertimbangan Anda dalam memilih arsitek. Untuk itu, mengenal lebih dekat arsitek yang akan Anda pilih adalah salah satu hal yang wajib dilakukan. Seperti yang dijelaskan oleh Erwin Hawawinata, arsitek dari biro Hawawinata & Associates, pengguna jasa harus bisa meluangkan waktu melihat langsung hasil karya arsitek yang dipilih, supaya penilaiannya lebih objektif.

Dengan melihat hasil karya arsitek tersebut, Anda pun memiliki lebih banyak wawasan yang bisa dikemukakan saat bertemu langsung dengan sang arsitek. Kepribadian arsitek juga merupakan hal yang wajib Anda pelajari. Pilihlah arsitek yang bisa dipercaya untuk menerjemahkan mimpi Anda dalam memiliki hunian idaman. Kerjasama dan komunikasi yang baik sangat dibutuhkan, karena hubungan pekerjaan akan berlangsung dalam kurun waktu tertentu, mulai dari proses desain, pembangunan, hingga pascapembangunan. “Sepanjang pengalaman, banyak klien yang merasa arsitek adalah drafter (tukang gambar). Itu salah besar. Arsitek bertugas sebagai penggagas ide dan penerjemah mimpi. Konsep yang out of the boxlah yang dibayar klien, jadi salah besar jika mendikte arsitek. Sudah jadi tugas arsitek menerjemahkan keinginan klien dengan ilmu yang dimiliki,” tutur Erwin.

Mengenal Lebih Jauh

Selain karya dan kepribadian arsitek, latar belakang organisasi juga bisa menjadi pertimbangan. Jika memilih arsitek yang tergabung dalam organisasi IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), Anda akan mendapatkan jaminan kredibilitas dan kinerja sang arsitek yang berada di bawah kode etik. Arsitek terutama anggota IAI umumnya mengikuti panduan dan standarisasi pelayanan yang ditetapkan IAI. Di sini IAI tak hanya menetapkan panduan nilai jasa arsitek saja, tapi juga ruang lingkup pekerjaan, tahapan, serta hak dan kewajiban yang dimiliki pengguna jasa dan arsitek.

Meski begitu, Erwin menambahkan, terdapat berbagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan nilai jasa arsitek, seperti lokasi proyek, ongkos kerja, dan ongkos lainnya, misalnya conference call bila proyek dikoordinasikan di negara atau kota yang berbeda. Steve punya pendapat senada, “Nilai jasa memang menjadi keputusan antara arsitek dan pengguna jasa. Namun jika merasa dirugikan oleh praktik anggota IAI, pengguna jasa bisa mengadukan kepada IAI. Jika terbukti melanggar, IAI akan memberikan sanksi.” Namun perlu diingat, IAI hanya bisa memberikan sanksi pada anggotanya saja. Oleh karena itu, pengguna jasa perlu mengecek dahulu apakah arsitek yang akan digunakan benar-benar anggota IAI atau bukan.

Disiplin Anggaran

Bagaimana caranya supaya proyek tidak mandek di tengah jalan? Jawabannya adalah disiplin anggaran. Arsitek dan pengguna jasa harus menyepakati perencanaan anggaran dalam bentuk kontrak tertulis, yang berisi hak dan kewajiban masing-masing pihak, misalnya sistem pembayaran, lingkup kerja, Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan lainnya. Untuk menentukan nilai jasa arsitek sendiri, ada beberapa sistem yang bisa digunakan. Sistem per meter persegi, yang menghitung biaya jasa berdasarkan harga per meter persegi dari total luas bangunan.

Sistem persen, yang menghitung biaya jasa berdasarkan RAB, umumnya berkisar 5-8% tergantung tingkat kerumitan, perjanjian antara arsitek dan pengguna jasa, hingga total biaya RAB. Sistem lumpsum, yang menghitung biaya jasa berdasarkan harga borongan. Sistem ini cocok digunakan untuk pengguna jasa yang memiliki anggaran tidak terbatas dan tidak ingin direpotkan dengan perhitungan biaya. Sistem cost and fee, yaitu sistem pembayaran biaya proyek (material, tukang, alat, dan lainnya) secara berkala sesuai transaksi dan arsitek mendapatkan biaya jasa sebesar 10-15% dari total biaya proyek.

Meski bisa dinegosiasikan, arsitek umumnya menggunakan rumus 50-45-5, yaitu 50% untuk biaya DP, 45% setelah gambar selesai, dan 5% setelah proyek rampung. Jika sudah ada kesepakatan, Anda bisa mulai membuat timeline pembayaran bahkan sebelum proyek dimulai. Pembicaraan dari awal akan memudahkan Anda mengatur keuangan selama proyek berlangsung–apakah ingin menggunakan dana pribadi atau mengambil kredit di bank. Dengan pengaturan yang baik, proses pembangunan rumah impian Anda pun dapat berlangsung dengan lancar dan Anda dapat menikmati tinggal di rumah rancangan arsitek favorit. Jadi, sudah siapkah Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *