Gairah Partai Note dan Tablet

Hari-hari ini, Samsung mungkin tak nyenyak tidur. Bagaimana tidak, nasib penjualan Galaxy Note 4 belum pula menandakan pecah rekor. Masih bertengger di bursa ponsel lokal dan global sebagai gacoan akhir tahun 2014, dan tampaknya masih akan terus mejeng di Partai Note sampai kuartal 1 2015. Dengan harga sekitar Rp 8,5 jutaan, Note 4 sulit menjangkau konsumen secara lebih masal. Tiba-tiba Xiaomi bikin kejutan lagi. Kali ini oleh hadirnya seri Mi Note. Sebuah seri Note yang dijual 40 persen lebih miring dibanding Note 4. Sontak begitu diumumkan, perang keduanya mendapat sambutan panas jagat media sosial. Ini bak pertarungan kelas dunia di Partai Note.

Gairah Partai Note dan Tablet

Bahkan keduanya disebut sebagai the hottest 4G product. Keduanya menyuguhkan kemampuan yang seimbang, kendati punya sisi plus dan minus. Sama-sama membawa layar 5,7 inci diagonal. Telah menggunakan KitKat. Memakai memori RAM 3 GB. Pemain di Partai ini tak banyak. Selain Samsung, ada LG. Karena itulah demi variasi produk, Xiaomi pun nyemplung. Meski sebenarnya besaran marketnya tak seranum smartphone biasa. Kepercayadirian Xiaomi keluar setelah mampu menyikat habis pasar lokal, Tiongkok. Mereka sukses merebut kelompok pasar kelas menengah dengan beberapa gacoan macam RedMi 1S atau Mi3. Dan itu adalah mayoritas di negeri ini.

Selain itu, taktik Xiaomi tidak mau mengorbankan seri barunya ini dengan chipset Mediatek yang dianggap kelas dua. Mereka tetap memakai Qualcomm agar psikologi konsumen tak malah menjatuhkan kualitas produk tersebut. Gairah lain juga tengah melanda Partai Tablet. Sementara HTC menyiapkan jagoannya, Nexus 9, Nokia telah melepas seri N1 yang bikin rekor baru. Dalam tempo 4 menit terjual 20 ribu unit di Tiongkok. Sebagai sebuah brand, Nokia masih besar. Sebastian Nystrom, bos produk Nokia yang loyal tinggi ini bahkan menyebut, siapa bilang Nokia sudah habis. Nokia menggandeng Intel yang diam-diam mulai getol mendongkrakkan chipset mobile.

Pabrikasinya diserahkan kepada Foxconn hingga harga yang keluar pun membuat banyak orang terbelalak. Lalu muncul persepsi, Nokia rupanya mulai sedikit berani toleran terhadap harga dan memupuskan ungkapan antiAndroid. Tetapi untuk spesifikasi tetap seperti Nokia zaman dulu. Intuitif dan harus perform. Ini yang membuat HTC jadi was-was. Padahal produk ini sudah eksklusif dari Google. Mengusung nama Nexus pula yang tentu sudah kompatibel dengan versi 5.0 (Lollipop). Sehingga HTC hanya bisa memancang angka sekitar Rp 7,5 juta untuk konsumen. Celakanya belum ada kisah sukses atas penjualannya yang telah dimulai akhir tahun silam. Nokia N1 dilego sekitar Rp3,2 jutaan. Sudah begitu menawarkan user interface Z Launcher.

Antarmuka ini bahkan dapat digunakan di berbagai smartphone Lillipop di beberapa negara. Ini seperti melepas dua anak panah. Xiaomi Mi Note tampaknya masih menunggu seri-seri seperti Mi4 terjual di Indonesia. Tak soal, sebab model bisnis Xiaomi sudah hadir di sini. Anda musti sabar kala ingin memiliki, kecuali beli via on-line. Nah, siapa yang akan memasukkan Nokia N1? Saya coba konfirmasi ke temanteman mantan Nokia, bahkan yang telah pindah jadi awak Microsoft Mobile, tak ada satu pun yang tahu. Nokia N1 adalah “emas” baru untuk kelompok tablet. Ditunggu, siapa yang berani mendulang di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *