peyek

Share Pengalaman, Gengsi Peyek di Pasar Modern

Bagi sebagian orang, peyek mungkin terlihat camilan biasa saja. Kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. Namun tetap saja semua kalangan menyukainya. Adalah Nico Budianto (43) yang punya ide untuk membuat peyek khusus kelas menengah ke atas. Bagaimana caranya?

Usaha ini sebenarnya berawal dari pengamatan Nico ketika sedang berkumpul dengan keluarga besar sang istri yang berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.

“Kalau sudah ngumpul, itu selalu ada saja yang membawa peyek, dan pasti disukai,” bebernya. Melihat banyak saudaranya yang punya kemampuan membuat peyek yang enak, Nico pun lantas terpikir untuk membisniskannya seperti yang dikatakannya kepada tim Portal Souljournal.org.

Peyek Disukai Banyak Kalangan dan Harganya Murah

Peyek Disukai Banyak Kalangan

Apalagi menurutnya, peyek selalu disukai siapa saja, baik dari kalangan bawah hingga menengah ke atas.

“Apalagi saya melihat belum ada orang yang menggarap bisnis peyek ini secara serius, khususnya untuk kalangan menengah ke atas,” ungkapnya lagi. Teknik pemasaran dan sertifikasi Nico memulai usaha ini Februari lalu.

Namun ia menggunakan manajemen yang terukur untuk membangun fondasi usahanya. Pertama, tentu saja ia dan istrinya mengutak-atik resep peyek yang paten.

Selain mengutamakan kerenyahan, Nico juga memperkuat basis bumbu rempahnya.

“Jadi selain renyah, rasa bumbunya juga harus terasa,” jelasnya. Peyek ini kemudian ia jual di sekitar rumahnya dengan cara menyebar brosur.

Sebulan berjalan, ternyata hanya ada 1 penelepon. Tak patah semangat, Nico pun mengubah teknik berjualan. Kali ini ia menjualnya langsung pada hari Minggu ketika banyak orang berolah raga pagi.

Baca Juga: Mengenal Budaya Lokal

Tak dinyana, ratusan bungkus peyek yang dibawanya ludes terjual. “Saya berkesimpulan, berjualan makanan seperti peyek memang harus dilihat langsung, bukan mengandalkan brosur,” ujarnya bersemangat.

Sambil meneruskan penjualan di kompleks, Nico pun mulai mencicil soal urusan sertifikasi. Mulai dari sertifikasi halal, sertifikasi dari dinas kesehatan untuk mendapatkan nomor PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), hingga paten merek Yumila yang sudah didaftarkan ke Dirjen HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).

“Menurut saya hal ini sangat penting untuk mengembangkan usaha karena semuanya sudah dilindungi secara hukum,” imbuhnya seperti yang Ia katakana kepada Web Soulofren.com.

Akhirnya Niko Mencoba Memasok Peyek Ke Tangerang

 

Batu loncatan di pasar modern Nico pun mencoba memasok ke sejumlah rumah makan di sekitar Tangerang. Namun rupanya peyek miliknya dianggap belum punya bukti kuat untuk mejeng di restoran mereka.

Sebagai salah satu sosok yang aktif dalam komunitas BSD Society, Nico paham jika pasar modern BSD menjadi rujukan bagi warga di sekitar Serpong untuk mencari makanan berkualitas. Ia pun memutuskan untuk menyewa lapak kecil untuk berjualan di sana. “Kira-kira saya setahun berjualan di pasar modern BSD.

Ini sebagai wujud pembuktian jika peyek saya enak dan laku,” ujarnya.

Keberadaan lapak peyeknya di pasar modern membuat peyeknya semakin dipercaya, dan Nico pun sukses memasok peyeknya di beberapa rumah makan besar di Tangerang.

“Dulu mereka menolak peyek saya, tapi setelah itu mereka berbalik meminta dipasok peyek,” kisahnya dengan ekspresi senang. Untuk kelas menengah ke atas, kemasan juga sangat penting. Nico mendesain kemasan plastik dengan stiker menawan sebagai penanda merek dan jenis peyek.

Saat ini, Nico menawarkan beberapa jenis peyek, di antaranya peyek kacang tanah, kacang hijau, rebon, teri, dan kedelai pedas.

Masing-masing berbobot 100 gram dengan harga jual Rp 10 ribu. Dalam waktu dekat, ia juga akan meluncurkan peyek jenis baru, yaitu peyek jagung manis, wortel, dan bayam.

“Ke depannya pasti akan ada inovasi baru peyek jenis lainnya,” cetus pria yang memproduksi 100 bungkus peyek per hari ini.

Untuk menjaga kualitas peyeknya, Nico hanya menggunakan minyak 2 kali saja untuk menggoreng peyek. “Jika digunakan berkali-kali, kualitasnya kurang bagus dan bisa mempengaruhi rasa peyek menjadi kurang enak atau cepat tengik,” terangnya.

Soal nama pun menjadi poin penting. Di matanya, sudah banyak produk makanan yang mengusung ibu-ibu atau nenek-nenek sebagai mereknya.

Nico ingin yang berbeda. Maka ia menggunakan logo gadis muda yang dinamai ‘Yumila’, yang berasal dari bahasa Jawa, Mbakyu Mila.

“Mila ini nama dari saudara istri saya yang mengajarkan membuat peyek enak,” akunya. Selain dijajakan di sejumlah rumah makan dan restoran, Nico juga membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi agen penjual peyeknya. Nah, Anda tertarik bekerja sama?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *